Seni Lukis Surabaya

Peranan Media Massa dalam Kesenian

Media massa, baik elektronika maupun cetak, juga menjadi pusat penyebaran nilai seni modern di Jawa Timur. Lewat media massa itulah para seniman Jawa Timur saling berkomunikasi, saling berdiskusi, saling berapresiasi, berekspresi, dan mengetahui perkembangan setiap seniman, sanggar, kelompok, dan berbagai pemikiran yang muncul di Jawa Timur. Di Jawa Timur, khususnya di Surabaya, ditahun 1970-an muncul Mingguan Memorandum. Media cetak Mingguan Memorandum merupakan mingguan yang kritis terhadap negara, dimaksudkan sebagai media kontrol sosial bagi kalangan intelektual Surabaya dan Jawa Timur. Di dalam mingguan ini ada rubrik kesenian dan budaya yang aktif memberi ruang terhadap artikel seni, berita seni, cerita pendek, dan puisi seniman Jawa Timur dan nasional.

Di samping itu ada harian yang sangat besar dan kuat ditahun 1970-an di Jawa Timur yaitu harian Surabaya Post. Harian Surabaya Post yang berpusat di Surabaya sangat intensif memuat berita, artikel, gambar, kartun, dan ulasan kesenian. Di harian ini pula rubrik cerpen dan puisi disediakan secara rutin. Banyak sastrawan senior dan penulis cerpen senior seperti Akhudiat, Muhamad Ali Maricar, Suripan Sadi Hutomo, Husen Mulahele, Gerson Poik, Amang Rahman, Khrisna Mustadjab, dan sebagainya menulis di koran ini. Surabaya Post adalah harian dari Surabaya yang paling besar peredarannya di wilayah Jawa Timur. Karena itu banyak sastrawan, pelukis, pemusik, penari, dan pemain teater dari luar Surabaya menulis dan diberitakan aktivitas keseniannya di Surabaya Post.

Ditahun 1970-an muncul juga harian Bhirawa. Bhirawa sebenarnya merupakan koran milik koalisi antara birokrasi Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan TNI AD, utamanya unsur KODAM V Brawijaya, juga menjadi instrumen penting berkembangnya kesenian modern di Jawa Timur, ketika redaktur keseniannya dipegang Dr Suripan Sadi Hutama. Suripan Sadi Hutama adalah dosen sastra senior di IKIP Surabaya (sekarang UNESA). Dia terkenal sebagai kritikus sastra Indonesia bagian Timur yang kuat sekali. Dia terkenal sebagai HB Yasin Indonesia Timur. Sejak redaktur kesenian Bhirawa dipegang Suripan Sadi Hutama maka rubrik keseniannya berkembang pesat. Banyak penulis sastra Jawa Timur memulai karier penulisannya dari Bhirawa. Di samping itu karena wibawa Suripan Sadi Hutamalah yang menyebabkan penulis senior seperti Muhamad Ali, Amang Rahman, Hardjono W.S, Hazim Amir, dan sebagainya rajin menulis di Bhirawa. Dengan demikian Bhirawa menjadi salah satu media ekspresi kesenian para seniman muda dan senior di Jawa Timur.

Ditahun 1980-an juga muncul koran Suara Indonesia yang berpusat di Kota Malang. Suara Indonesia juga mempunyai rubrik kesenian yang bagus. Banyak penulis kota dan daerah Malang menulis kesenian di koran ini. Begitu juga para seniman Surabaya, Jombang, Gresik, Madiun, dan sebagainya pernah menulis di Suara Indonesia. Di Suara Indonesia berhimpun redaktur kesenian yang memang penulis cerpen, penyair, dan kritikus sastra seperti Toto Sonata, M Jupri, dan seorang redaktur senior yang berwawasan budaya luas yaitu Peter A Rohi. Media massa cetak di atas sangat besar penagruhnya terhadap perkembangan kesenian modern di Jawa Timur. Sebab media massa ini banyak memuat artikel seni, cerpen (cerita pendek), potret kesenian modern dan berita kesenian. Banyak seniman Surabaya dan Jawa Timur, pada umumnya, mengawali karir sebagai seniman dengan menulis dan atau diulas di 4 media cetak yang terbit di Surabaya dan Malang itu.

Ditahun 1970-an dan akhir Tahun 1960-an juga banyak terbit buletin, tabloid kesenian, jurnal, dan buku seni terbit di Surabaya. Buletin, tabloid, jurnal, dan buku kesenian sering diterbitkan oleh lembaga kesenian seperti Dewan Kesenian Surabaya, Bengkel Muda Surabaya, berbagai sanggar yang ada di Surabaya dan kota lain di luar Surabaya, dan juga pribadi penyair yang menerbitkan kumpulan sajaknya. Mulai dari seniman senior sampai dengan yunior banyak yang menerbitkan kumpulan puisi. Penyair Husein Mulahele menerbitkan kumpulan puisi, Krisna Mustajab, Muhamad Ali Maricar, Akhudiat, dan Muhamad Anis menerbitkan kumpulan puisi ditahun 1970-an.

Berbagai literatur, buku-buku kesenian, dari Jakarta dan Yogyakarta menyebar ke Jawa Timur melalui Surabaya. Media massa Jakarta, seperti Kompas, Sinar Harapan, dan sebagainya menyebar ke beberapa kota Jawa Timur melalui Surabaya. Begitu pula para seniman Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Padang, Sumatera Utara, Ambon, dan sebagainya selalu singgah di Surabaya. Dan sebaliknya para seniman Jawa Timur, baik dari Surabaya maupun di luar Surabaya, seringkali memulai berkomunikasi dan berinteraksi dengan para seniman Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan sebagainya dari Surabaya. Dan bahkan kemudian mereka berdiskusi, berdialog, dan bermain kesenian juga di Surabaya.

Ditahun 1960-1970an media elektronika yang berperan terhadap perkembangan seni modern di Jawa Timur adalah radio, utamanya RRI Surabaya (Radio Republik Indonesia). Sejak tahun 1960-an kesenian tradisional, seperti ludruk, ketoprak, wayang orang, wayang kulit, pembacaan macopatan, dan sebagainya banyak dimainkan di RRI Surabaya. Begitu juga kesenian modern seperti teater, musik pop, klasik, dan berbagai berita kesenian modern banyak diberitakan di RRI Surabaya.

Ditahun 1970-an, ketika radio swasta berkembang pesat di Jawa Timur, utamanya di Surabaya kesenian modern pun banyak diekspresikan di radio swasta tersebut. Radio Merdeka banyak mengembangkan pembacaan puisi, cerpen, dan teater. Tokoh yang muncul dari radio Merdeka adalah Yudo Herbeno, seorang pembaca puisi yang bagus dan penyair Jawa Timur. Yudo Herbeno kemudian menjadi penyiar TVRI Jawa Timur. Radio Merdeka sering menjadi sponsor lomba baca puisi. Kemudian Radio Rajawali juga banyak menghimpun teater dan seniman Surabaya untuk mengisi pembacaan puisi, teater, dan kesenian modern lainnya. Tokoh teater muda muncul dari aktivitas Radio Rajawali ini adalah Dr Mulyadi.

Berbagai model kesenian modern juga dimasukkan dalam program radio Susana. Mulai pembacaan puisi, sandiwara radio, acara bahasa Suroboyoan, dagelan, musik, sampai dengan teater dijadikan program penting radio ini. Tokoh penyiar populer muncul dari radio ini adalah Kaisar dan Ria Enes. Tatkala TVRI Jawa Timur berkembang ditahun 1970-an maka banyak tokoh teater bergabung dalam media elektronika ini. Bawong SN, Yudo Herbeno, Ria Enes, dan sebagainya bergabung dengan TVRI Jawa Timur dan kemudian mengembangkan program kesenian modern dan tradisional dengan baik. Banyak sekali lakon teater modern dimainkan di TVRI ini, antara lain Lingkaran Kapur Putih yang disutradarai Basuki Rachmad dari Bengkel Muda Surabaya pernah dimainkan di sini juga.(*)

Dualisme Kesenian dan Asimilasi Kesenian

Ditulis pada Oktober 3, 2007 oleh brangwetan

Peta perkembangan kesenian Jawa Timur dari dulu hingga saat ini menuju pola yang menarik yaitu di satu sisi muncul pola dualisme antara kesenian tradisional atau kesenian rakyat dan kesenian modern. Di sisi lain ada pula pola kesenian modern yang mengambil dasar kesenian rakyat atau tradisional. Dualisme dalam konsep ini seperti yang ditulis oleh Boeke yaitu dua jenis kesenian yang berkembang secara sendiri-sendiri, tidak saling mempengaruhi satu sama lain, sehingga tidak pernah bertemu. Dua jenis kesenian ini seperti sepasang rel kereta api, selalu sejajar, tetapi tidak pernah bertemu dalam satu titik.

Dualisme kesenian rakyat dan modern berarti kesenian rakyat (tradisional) dan modern berkembang secara sendiri-sendiri, tidak saling mempengaruhi, tidak pernah bertemu dalam satu titik tertentu, tetapi selalu sejajar dari hulu sampai dengan hilir. Dualisme kesenian Jawa Timur antara kesenian rakyat (tradisional) dan modern sejak awal eksistensinya hingga arah perkembangan berada dalam paradigma yang berbeda. Baik kesenian rakyat (tradisional) dan modern hidup dan berkembang di atas formasi sosial yang berbeda. Kesenian rakyat atau kesenian tradisional Jawa Timur sejak dulu berkembang di atas formasi sosial agraris tradisional. Formasi sosial masyarakat Jawa Timur sangat menentukan pola dan arah perkembangan kesenian rakyat (tradisional) Jawa Timur seperti formasi sosial masyarakat Pendalungan, Mataraman, Arek, dan Osing.

Formasi sosial agraris tardisional Mataraman, Pandalungan, Arek, dan Osing itu menentukan lingkup, arah perkembangan, estetika, artistik, dan pola distribusi kesenian rakyat (tradisional) Jawa Timur. Para seniman rakyat (tradisional) sebagian besar adalah buruh tani, petani penggarap, pekerja perkebunan, nelayan, pekerja musiman, dan pekerja seni rakyat itu sendiri (hasil wawancara Tribroto di Jombang[*]). Kesenian rakyat (tradisional) hidup dari komunitas sosial sekitarnya dengan cara ditanggap untuk kepentingan sedekah desa, hari nasional, hajatan warga, sunatan, perkawinan, dan kepentingan upacara sosial masyarakat desa tersebut. Kesenian rakyat (tradisional) seringkali hidup dan bertahan karena kebutuhan artistik dan atau spiritual masyarakat daerah setempat.

Kesenian rakyat (tradisional) pada umumnya diproduksi secara kolektif oleh komunitas daerah itu, meskipun para anggotanya bisa dari asal yang heterogen (dari berbagai orang dengan asal daerah bermacam-macam). Banyak cerita kesenian rakyat (tradisional) itu berasal dari mitos, cerita agama, kisah nabi, kisah wali, kerajaan atau aristokrasi, legende tentang sungai, daerah, dan nilai pitutur bagi generasi kemudian. Karena itu kesenian rakyat (tradisional) itu sering dinilai bersifat kolektif dan karyanya anonim, meskipun saat ini mulai banyak ”sentuhan” karya individual dalam karya seni rakyat (tradisional) itu.

Salah satu ciri khas lain dari kesenian rakyat (tradisional) adalah mempertahankan ”tradisi”atau kebiasaan artistik yang sudah ada. Artinya kesenian rakyat (tradisional) selalu menjaga ciri kesenian rakyat (tradisional) yang ada, dari mulai dibuat, baik mengenai pola artistik, cerita, bentuk penampilan, hingga esensi cerita yang hendak disampaikan. Dalam konteks ini sebenarnya kesenian rakyat (tradisional) adalah pelestari dan penjaga tradisi artistik dan spiritual masyarakat daerah tersebut.

Sangat masuk akal kalau Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah berusaha menjaga tradisi masyarakat dengan cara mensuplai dana besar sekali dari APBD dan APBN.

Distribusi dana besar dari negara kepada kesenian rakyat (tradisional) di samping untuk melestarikan nilai nilai tradisi (dianggap luhur) juga untuk mempertahankan dan mengembangkan budaya indigeneous (BI) dalam masyarakat Jawa Timur.

Sementara itu kesenian modern tumbuh dalam formasi sosial perkotaan dan status sosial yang heterogen. Para seniman modern sering berasal dari psikologi ”perlawanan” atau kritis terhadap sistem sosio-kultural yang melingkupinya. Gunawan Muhamad merumuskan penyair adalah ”Malin Kundang”, sebagai simbol tokoh alienasi dari keadaan sekitarnya. Para seniman modern sebagian berasal dari akibat proses modernisasi sosio-ekonomi, kapitalisasi, perkembangan pendidikan modern, dan proses globalisasi informasi. Dalam proses transformasi semacam itu para seniman modern muncul sebagai gejala ”Malin Kundang”. Para seniman modern banyak berasal dari para intelektual, jurnalis, pekerja sosial, pekerja seni, guru, pegawai swasta, dosen, dai, dan sebagainya.

Seniman modern berasal dari formasi sosial heterogen, individual, dan sedikit banyak dihinggapi ”penyakit” Malin Kundang. Karena itu bahasa kesenian para seniman modern itu sangat heterogen, kadang terasa individual, tetapi yang jelas berada dalam format inovasi, pembaharuan, dan minimal kreativitas. Ini artinya kesenian modern merupakan gejala individual, inovasi, dan bukan pelestari tradisi sistem tradisional. Bahkan kesenian modern sedikit banyak hasil dari tradisi intelektual yang kuat (yaitu skeptis) dan seringkali memberontak atau melawan atau membongkar tradisi masyarakat. Posisi seniman modern dan kesenian modern yang dihinggapi ”penyakit” Malin Kundang, menolak tradisi, pembaharuan, dan berdiri di atas eksperimentasi itu yang menyebabkan negara kurang intensif memberi bantuan atau dorongan (suplai) dana besar seperti kesenian rakyat (tradisional). Kesenian modern bukanlah penjaga dan pewaris tradisi, tetapi mewacanakan tradisi dan berbagai nilai kehidupan dalam pandangan skeptis, kreatif, dan inovatif.

Tradisi kesenian modern adalah perubahan dan perspektif universal. Ini artinya kesenian modern mempunyai akar tradisi fenomena dinamis kemanusiaan dan tradisi dialektika intelektual dunia. Dengan demikian kesenian modern secara teoritis dan metodologi mempunyai sejarah internasional dan universal, meskipun sering secara faktual berkembang adopsi dan sinkretis dengan tradisi lokal. Kesenian modern dimainkan, dipamerkan, dan dimuat untuk kepentingan apresiasi seni dan komersial. Teater modern dimainkan sebagian besar untuk alasan apresiasi dan sangat sedikit untuk kepentingan komersial. Begitu pula sajak, cerpen, novel, dan roman dimuat di media massa atau dibukukan pada umumnya untuk nilai apresiasi, meskipun nilai komersialnya tetap katut. Tidak lumrah dalam hajatan, misalnya perkawinan, menanggap pembacaan cerpen atau puisi. Sangat lumrah kalau dalam hajatan perkawinan menanggap wayang kulit atau ludruk atau lawakan.

Secara makro kesenian modern dan para senimannya berada dalam jaringan formasi sosial global nasional maupun internasional, tetapi kesenian rakyat (tradisional) berada dalam formasi sosial agraris tradisonal (lokal atau indigeneous). Dua paradigma kesenian, rakyat (tradisional) dan modern, ini menyebabkan timbulnya dualisme perkembangan kesenian di Jawa Timur. Kesenian modern berkembang dalam paradigma, komunitas, dan pola produksi yang berbeda dengan kesenian rakyat (tradisional). Dalam banyak hal 2 paradigma ini sulit bisa bertemu dalam proses perkembangannya. Mereka mempunyai sejarah masing masing dan tidak banyak adanya unsur saling mendukung. Kalau ada saling membantu atau mendukung biasanya temporer sekali. Untuk menjadi paradigma ke-3 nampaknya sulit sekali.

Dualisme perkembangan kesenian rakyat (tradisional) dan modern ini tidak berarti tidak ada kesenian modern mendapat inspirasi atau dasar nilai dan penciptaan dari kesenian rakyat (tradisional). Banyak kesenian modern mendasarkan dirinya dari nilai sosial masyarakat dan kesenian tradisional (rakyat). Sajak sajak W.S Rendra, untuk contoh nasional, mendapat inspirasi dari pantun, meskipun banyak pengamat sastra menilai juga banyak dipengaruhi oleh sajak sajak Gracia Lorca. Karya instalasi Mulyono banyak dipengaruhi oleh kesenian rakyat Tulungagung. Begitu pula wayang kulit kontemporer Harman, dosen Unesa Surabaya, banyak mengambil dasar patron wayang kulit klasik, tetapi karya-karya modern dan kontemporer itu mempunyai proses perkembangan dan produksi yang berbeda dengan karya asli kesenian rakyat (tradisional).

Fenomena dualisme kesenian rakyat (tradisional) dan modern ini diperkuat oleh sikap birokrasi kesenian Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan semua birokrasi kesenian Pemerintah Kota dan Kabupaten seJawa Timur. Hal itu nampak dari sikap dan policy Dinas Pendidikan dan Kebudayaan atau Dinas Pariwisata disemua kabupaten/kota seJawa Timur hanya mendata jenis kesenian rakyat (tradisional). Data formal kesenian yang menjadi acuan program mereka hanya kesenian tradisional (rakyat). Tidak banyak kelompok kesenian modern diadministrasikan dengan baik oleh birokrasi kesenian pemerintah daerah ini. Misalnya Dinas Pariwisata Surabaya dari dulu tidak pernah mencatat kelompok teater Surabaya seperti Bengkel Muda Surabaya, Teater API, Teater Ragil, Teater Jaguar, dan sebagainya. Dinas Pariwisata selalu mencatat teater adalah teater tradisional, seperti ludruk. Bahkan yang banyak dicatat oleh Dinas Pendidikan dan atau Kebudayaan atau Dinas Pariwisata kabupaten/kota seJawa Timur adalah grup musik dangdut, orkes melayu, dan campursari.

Data formal kesenian di kabupaten/kota menimbulkan 2 penafsiran, pertama data kesenian itu dilakukan asal catat sesuai dengan kemampuan dan kepentingan mereka di daerah sehingga sangat dimungkinkan sebagian besar data itu kurang representatif. Yang dicatat adalah jenis kesenian yang dikenal mereka saja atau menguntungkan kepentingan mereka saja. Atau penafsiran kedua, data kesenian di daerah itu dicatat dengan antusiasme berlebihan. Mereka mencatat apa saja kesenian yang dikenal pemerintah daerah. Akibatnya banyak jenis kesenian itu yang sebenarnya sudah bubar.

III. KESIMPULAN

Kesenian rakyat (tradisional) pada umumnya diproduksi secara kolektif oleh komunitas daerah itu, meskipun para anggotanya bisa dari asal yang heterogen (dari berbagai orang dengan asal daerah bermacam-macam). Banyak cerita kesenian rakyat (tradisional) itu berasal dari mitos, cerita agama, kisah nabi, kisah wali, kerajaan atau aristokrasi, legende tentang sungai, daerah, dan nilai pitutur bagi generasi kemudian. Karena itu kesenian rakyat (tradisional) itu sering dinilai bersifat kolektif dan karyanya anonim, meskipun saat ini mulai banyak ”sentuhan” karya individual dalam karya seni rakyat (tradisional) itu.

Salah satu ciri khas lain dari kesenian rakyat (tradisional) adalah mempertahankan ”tradisi”atau kebiasaan artistik yang sudah ada. Artinya kesenian rakyat (tradisional) selalu menjaga ciri kesenian rakyat (tradisional) yang ada, dari mulai dibuat, baik mengenai pola artistik, cerita, bentuk penampilan, hingga esensi cerita yang hendak disampaikan. Dalam konteks ini sebenarnya kesenian rakyat (tradisional) adalah pelestari dan penjaga tradisi artistik dan spiritual masyarakat daerah tersebut.

Seniman modern berasal dari formasi sosial heterogen, individual, dan sedikit banyak dihinggapi ”penyakit” Malin Kundang. Karena itu bahasa kesenian para seniman modern itu sangat heterogen, kadang terasa individual, tetapi yang jelas berada dalam format inovasi, pembaharuan, dan minimal kreativitas. Ini artinya kesenian modern merupakan gejala individual, inovasi, dan bukan pelestari tradisi sistem tradisional. Bahkan kesenian modern sedikit banyak hasil dari tradisi intelektual yang kuat (yaitu skeptis) dan seringkali memberontak atau melawan atau membongkar tradisi masyarakat. Posisi seniman modern dan kesenian modern yang dihinggapi ”penyakit” Malin Kundang, menolak tradisi, pembaharuan, dan berdiri di atas eksperimentasi itu yang menyebabkan negara kurang intensif memberi bantuan atau dorongan (suplai) dana besar seperti kesenian rakyat (tradisional). Kesenian modern bukanlah penjaga dan pewaris tradisi, tetapi mewacanakan tradisi dan berbagai nilai kehidupan dalam pandangan skeptis, kreatif, dan inovatif.

Tradisi kesenian modern adalah perubahan dan perspektif universal. Ini artinya kesenian modern mempunyai akar tradisi fenomena dinamis kemanusiaan dan tradisi dialektika intelektual dunia. Dengan demikian kesenian modern secara teoritis dan metodologi mempunyai sejarah internasional dan universal, meskipun sering secara faktual berkembang adopsi dan sinkretis dengan tradisi lokal. Secara makro kesenian modern dan para senimannya berada dalam jaringan formasi sosial global nasional maupun internasional, tetapi kesenian rakyat (tradisional) berada dalam formasi sosial agraris tradisonal (lokal atau indigeneous). Dua paradigma kesenian, rakyat (tradisional) dan modern, ini menyebabkan timbulnya dualisme perkembangan kesenian di Jawa Timur.

Dualisme perkembangan kesenian rakyat (tradisional) dan modern ini tidak berarti tidak ada kesenian modern mendapat inspirasi atau dasar nilai dan penciptaan dari kesenian rakyat (tradisional). Banyak kesenian modern mendasarkan dirinya dari nilai sosial masyarakat dan kesenian tradisional (rakyat).

Seni rupa modern di Surabaya sering dikatakan tumbuh dan berkembang tanpa basis wacana. Padahal sejak awal abad ke-20 bersamaan dengan adanya kontak dengan budaya Barat (Eropa), di Surabaya telah muncul gejala pertumbuhan seni rupa modern sebagai keniscayaan mulai tumbuhnya budaya modern. Keberadaan medan sosial seni (art world) semacam galeri, perupa, sanggar dan kolektor terbukti telah menunjukkan aktivitas cukup dinamis, dan semuanya secara sinergis sebagai penyangga pertumbuhan seni rupa modern di Surabaya. Pertumbuhan seni rupa modern semakin menemukan arah kecenderungan wacana terutama setelah berdiri Akademi Seni Rupa Surabaya pada 1967.

Penelitian ini dirancang untuk menelusuri wacana historis seni rupa modern di Surabaya. Desain penelitian didasarkan pada metode penelitian sejarah analitik dengan pendekatan sosiohistoris. Dengan metode dan pendekatan ini memungkinkan eksplanasi wacana historis seni rupa modern di Surabaya yang dilatarbelakangi variabel-variabel sosial berlapis-lapis. Penelitian ini pada hakekatnya bertujuan memahami, menganalisis, mensintesis dan mengevaluasi kecenderungan wacana historic, seni rupa modern di Surabaya selama dekade ‘70 — ‘90-an. Penelitian ini juga didorong oleh kenyataan bahwa sampai sekarang belum ada kajian komprehensif, baik dalam bentuk tesis, desertasi atau buku, yang bertujuan membuat pemetaan perkembangan wacana historis seni rupa modern di Surabaya.

Dari data yang terkumpul, baik data tekstual maupun visual dapat dikemukakan beberapa hal sebagai temuan dari kajian ini. Pertama, generasi Aksera muncul bersamaan lahirnya Aksera. Generasi ini didominasi oleh cita dan citra berkesenian yang secara filosofis dan estetik mengacu pada modernisme yang universal dan Tinier. Namun, dalam konteks sosial generasi Aksera secara ideologis berorientasi pada wacana nasionalisme dengan pencarian identitas sebagai bahasa ekspresi individu yang khas dan unik. Kedua, generasi pasca Aksera muncul dalam latar sosial budaya kapitalisme dan posmodernisme. Pada latar kapitalisme muncul generasi ‘80-an yang diwarnai oleh euforia booming seni lukis yang menggejala sejak akhir dekade ‘80-an. Wacana pasar sangat dominan dalam era ini dengan ditandai kecenderungan berkarya yang market oriented, instant, artifisial. Pada latar posmodernisme dengan isu wacana seni rupa kontemporer muncul generasi ‘90-an. Kredo generasi ini menggejala kuat mulai 1994 dengan ditandai kemunculan kelompok seni rupa alternatif Kelompok ini memiliki kecenderungan kuat mengambil posisi sebagai perupa pemberontak. Mereka aktif mencari medium alternatif untuk merespons hadirnya isu seni rupa kontemporer yang berbasis pada pluralitas dan mengeksplorasi multi-media, serta media baru. Mereka mengangkat isu seni rupa sebagai gerakan kebudayaan untuk menumbuhkan kesadaran kolektif dalam konteks isu sosial, politik dan persoalan kemanusiaan.

Kelangsungan dan perubahan wacana historis dari generasi Aksera hingga generasi pasca Aksera membuktikan adanya basis wacana yang signifikan yang mendasari perkembangan seni rupa modern di Surabaya selama tiga dekade. Basis wacana itu bertolak dari wacana global yang berlangsung pada setiap kurun perkembangan. Basis wacana tersebut terbukti berpengaruh kuat pada praksis seni rupa dan kecenderungan estetik seni rupa modern di Surabaya. Seni rupa modern yang berkembang dalam entitas tertentu pada dasarnya menunjukkan historiografi yang khas, parsial, baik dalam konteks ruang dan waktu, serta kecenderungan estetiknya.

Di tengah konflik politik dan ideologi para pelukis di Surabaya tumbuh dengan cepat. Mereka adalah :

1. Karyono (lukisannya realisme dan ekspresionisme)

2. Tedja Suminar (lukisannya realisme dan ekspresionisme)

3. Muhamad Daryono (lukisannya ekspresionisme, banyak mengusung tema kerakyatan)

4. Krishna Mustajab (lukisannya ekspresionisme, dekoratif-ekspresif)

5. OH Soepono (ekspresionisme dan surialisme)

6. Rudi Isbandi (lukisannya beragam: mulai dari ekspresionisme, kolase, media campuran, dan abstrak)

7. Amang Rahman (surealisme dan terkenal gaya Amang Rahmanisme)

8. M. Roeslan (realisme dan kaligrafi Jawa, banyak mengusung masalah kerakyatan dan realsime sosial ala Hendra Gunawan)

9. Rustamadji (realisme dan naturalisme)

10. Koempoel (realisme dan impresionisme)

11. Soechieb (realisme dan banyak mengusung tema perjuangan)

12. Wiwiek Hidayat (impresionisme dan abstrak, banyak menorehkan garis-garis dan warna-warna mencolok)

13. Sudibio (Tahun 1946 mendirikan kelompok Seniman Muda Indonesia di kabupaten Madiun. Pada tahun 1967 bersama Wiwiek Hidayat mendirikan Sanggar Puring. Anggota Sanggar Puring adalah Sudibio, Wiwik Hidayat, Karyono, Tedja Suminar. Pada tahun 1960-an aktif seni rupa di Madiun dan Surabaya)

14. Nurdin

Setelah rezim Soekarno runtuh ditahun 1966 banyak seniman Lekra yang ditahan, dibunuh, dan melarikan diri. Sedangkan seniman lain yang berafiliasi ke partai politik, seperti LKN dan Lesbumi, diakhir Tahun 1960-an mulai pasif. Akibatnya di Surabaya yang dominan adalah seniman non PKI dan non afiliasi ke partai politik. Para seniman independen yang tergabung dalam gerakan Manikebu (Manifestasi Kebudayaan) mendominasi perkembangan seni rupa di Surabaya. Kelompok Manikebu itu adalah M Daryono, Rudi Isbandi, Amang Rahman, Krishna Mustadjab, dan sebagainya. Sebagian dari merekalah yang kemudian mendirikan AKSERA Tahun 1974.

Ditahun 1970-an mulai semarak perkembangan seni rupa di Surabaya. Sebab ada beberapa lembaga yang berpengaruh terhadap perkembangan seni rupa Surabaya saat itu. Pertama, pengaruh Akademi Seni Rupa Surabaya (Aksera). Kedua, pengaruh lembaga kesenian seperti Dewan Kesenian Surabaya (DKS), dan Bengkel Muda Surabaya (BMS).

Aksera sangat berpengaruh besar terhadap perkembangan seniman dan kesenian Surabaya. Aksera melahirkan pelukis seperti Nuzurlis Koto, Hardi, Dwijo Sukatmo, Makhfoed, Thalib Prasodjo, Hardjono W.S, Suud, Poerono Sambowo, Hasan Busro, Agus Kemas, Nunung W.S, Hari Matrais, Abraham, Akuat Pribadi, Serudi Sera, Bambang Haryadjie (Bambang Telo), Arifin Hidayat, Yahya Ramsech, Sugeng, dan pematung Soesiyar. Mereka mengembangkan kebebasan berpikir dan berkreasi sesuai dengan masukan dari guru-guru mereka seperti Muhamad Daryono, OH Supono, Amang Rahman, dan sebagainya.

Generasi pelukis Tahun 1970-an sebenarnya sangat beragam, meskipun pengaruh AKSERA sangat besar sekali. Mereka berkembang secara otodidak, dari Yogyakarta, dan sebagainya. Secara global generasi pelukis Tahun 1970-an adalah sebagai berikut (selengkapnya lihat: Direktori Seni Rupa di atas)

Abraham (realisme dan surialisme), Agus Kemas (hijrah ke Sumenep), Akuat Pribadi (ekspresionisme), Arifin Hidayat (realisme, dekoratif, dan eskpresionisme. Ahli taman), Bambang Haryadjie (ekspresionisme dan dekoratif), Dwijo Sukatmo (abstrak dan kemudian impresionisme, banyak tema-tema filsafat kehidupan), Hardi (realis-ekspresionisme, hijrah ke Jakarta), Hardjono W.S (pematung dan pelukis realisme dan ekspresionisme. Dia juga penyair dan sutradara teater anak-anak), Hari Matrais (lebih banyak ke teater), Hasan Busro (hijrah ke Jakarta), Liem Keng (sketsa yang bernuansa ekspresionis, dengan warna hitam putih dan media tinta yang kuat sekali), M. Thalib Prasodjo (realisme dan banyak menggambar sketsa hitam putih), Makhfoed (surealisme dengan tema dominan alam kehidupan ala “Miro”), Nunung W.S (realisme dan ekspresionisme, hijrah ke Jakarta, Yogyakarta), Nuzurlis Koto (abstrak), Poerono Sambowo (realisme dan abstrak), Saiman Dullah (naturalisme), Serudi Sera (pointilis dan surialisme), Soesiyar (banyak karya patung, patung bertema kehidupan, tetapi disajikan secara surialisme), Subur Dullah (naturalisme), Sugeng (gaya optik), Suud Endisuseli (banyak melukis dengan media tinta dengan warna hitam putih. Lukisannya banyak dominan garis fraktal dan pointilis), Wahjudi D. Soetomo (realisme dan terakhir abstrak, ahli taman), Yahya Ramsech (realisme dan kaligrafi)

Di samping itu Aksera menyelenggarakan Sekolah Minggu Aksera (SMA). SMA ini melahirkan seniman seperti Wadjie MS dan Sukarno. Bengkel Muda Surabaya pun menyelenggarakan sekolah minggu seni lukis sehingga banyak seniman muda yang lahir dari aktivitas BMS ini. Tokoh yang lahir dari BMS adalah Bawong SN, Amir Kiah, dan Winarto

Ditahun 1980-an dunia seni rupa Surabaya mulai diramaikan oleh pengaruh pendidikan seni rupa Fakultas Keguruan Bahasa dan Seni (FKBS) IKIP Surabaya (UNESA). Akibatnya sejak tahun 1980-an itulah berkembang pelukis dan lukisan yang sangat beragam. Banyak seniman yang mendapat pengaruh UNESA, lulusan ASRI Yogyakarta, otodidak, STKW, dan sebagainya. Tidak heran kalau generasi seni rupa Surabaya sejak Tahun 1980-an semakin beragam. Kita simak keberagaman itu adalah sebagai berikut:

1. A.Gusge (realis-surealis)

2. Abdul Kadir (impresionis)

3. Albert Rondonuwu (realis)

4. Amdo Brada (Bambang Widodo). Amdo adalah jebolan STSI ASRI Yogyakarta. Amdo terkenal dengan lukisan dekoratif etnik. Dia banyak melukis totem dan dekorasi daerah.

5. Amir Kiah (realis-ekspresionis)

6. Anang Timur (realis, surealis, dan dekoratif. Banyak mengusung tema candi)

7. Andi L. Hamsan (realis-dekoratif dan surealis)

8. Andi Sulasmono (realis)

9. Arifin Petruk (instalasi)

10. Asri Nugroho (realisme, surealisme, dan abstrak)

11. Bagas Karunia Putra (realis, ekspresionis, multi media, dan terakhir dadais)

12. Bambang Widiantoko (abstrak)

13. Basuki (realis)

14. Bilaningsih (ekspresionis dan dadais)

15. Chamdani (ekspresionis, banyak mengusung tema sosial)

16. Chusnul Bahri (pelukis kaligrafi dan dekoratif. Lukisannya style Madura).

17. Chusnul Hadi (realis, kaligrafi)

18. Doho Senjoyo (naturalis)

19. Doyo Prawito (realis, natural, dan terakhir surialis)

20. Dwi Hadiah (realis-dekoratif)

21. Farid Firdaus (impresionis, ekspresionis)

22. Hening Purnamawati (dekoratif dan surialisme). Hening merupakan pelukis perempuan Surabaya potensial.

23. Her Rusmadi (realis, ekspresionis, dan banyak mengusung tema kerakyatan model Hendra Gunawan)

24. Heri Suyanto (realis, dekoratif, dan pointilis)

25. Hisyam (dekoratif)

26. Hookim Hong (realis dengan gaya lukisan China)

27. I Nyoman Ladra (dekoratif)

28. Ika Ismurdiahwati (dekoratif dengan banyak tema lukisan topeng dan totem)

29. Imam Chambali (realis)

30. Iskandar Zubair (realis dan banyak melukis karikatur)

31. Ivan Hariyanto. Pelukis Surabaya bergaya surealis yang produktif. Ivan lulusan STSRI “ASRI” Jogyakarta.

32. J.S Warno (realis)

33. Juli Jatiprambudi (realis-ekspresionis, lebih terkenal sebagai kritikus dan penulis seni rupa)

34. K. Djuwito (realis)

35. Kris AW (pernah di Surabaya. Sekarang di Gresik.Lukisannya realis)

36. Liem Keng

37. Liwung (realis)

38. Lukman Azis (surealis, bermukim di Porong Sidoarjo, almarhum)

39. M. Basuki (realis)

40. M. Thoyib (dekoratif)

41. Mas Dibyo. Mas Dibyo merupakan salah seorang pelukis bergaya ekspresionis yang sangat produktif. Pada awal Tahun 1990-an dia pindah ke Tuban dan sangat produktif pameran.

42. Mudjiono (realis)

43. Muhamad Fauzi (surealis dekoratif)

44. Musfaat (realis dan naturalis)

45. Natalini (Lini) (ekspresionisme)

46. Nonot Sukrasmono (realis, surealis, dan abstrak, dan kaligrafi)

47. Nunung Bachtiar (realis, ekspresionis)

48. Okka Jauhari (abstrak)

49. Pandik (realis)

50. Pek Liang (realis dengan gaya lukisan China)

51. Praci Hara (abstrak, lulus Unesa, banyak sibuk mengajar di SMKN XI – SMSR Surabaya)

52. Purnomo Sadewo (realis ekspresionis)

53. Rijaman (pointilis)

54. Rilantono (realis, dekoratif, dan pop art)

55. Salamun Kaulam, dosen UNESA, termasuk pelukis Surabaya yang rajin pameran bersama. Lukisan Salamun sangat ekspresif dengan komposisi warna cerah. Perkembangan terakhir, bentuk lukisan Salamun mengarah ke abstrak.

56. Satya Budi (realis-surealis). Sekarang tinggal di Yogyakarta.

57. Sebastian (realis, banyak belajar dari Doyo Prawito)

58. Setyoko (ekspresionisme, fauvisme)

59. Sim Kiem (realis)

60. Siti Rijati (realis)

61. Sri Rahayu (realis)

62. Subanu (realis-dekoratif)

63. Sugiarso Widodo (lukisannya banyak tema mesin sebagai simbol budaya masyarakat saat ini)

64. Sukarno (realis, dekoratif)

65. Surachman KS (realis dekoratif)

66. Suratno (realis)

67. Sutjahyo Widodo (realis ekspresionis)

68. Syafei Prawirosedono (Cak Pii) (realis banyak tema wayang)

69. Syaiful Hadjar (realis, grafis, dan saat ini menekuni seni rupa instalasi)

70. Taufiq Sulistiya (realis)

71. Thoyib Tamsar (dekoratif, banyak bikin patung dari bahan serat rosella)

72. Tiko Hamzah (realis-surialis)

73. Utut Hartono Brotoasmoro (realis)

74. Wadji M.S (realis dekoratif)

75. Wijianto (realis)

76. Yuliascana (dekoratif)

Sedangkan generasi seni rupa Surabaya Tahun 1990-an sama beragamnya dengan generasi seni rupa Tahun 1980-an. Akan tetapi generasi seni rupa Surabaya Tahun 1990-an banyak mengusung tema sosial, politik, dan kritis terhadap lingkungan sekitarnya. Mereka adalah

1. Abdul Hakim (otodidak. kaligrafi)

2. Agus Kucing (pop art dan instalasi)

3. Agus Muharam (kaligrafi)

4. Ari Indriastuti (realis, lulusan Unesa)

5. Arsdewo (STSI=Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung. Realis ekspresionis dengan tema kerakyatan)

6. Asnan Hayadi (realis, otodidak, banyak melukis kota lama)

7. Bambang Kuncung (nama aslinya Bambang Bagus Permadi. Mahasiswa STKW. Instalasi dan pop art)

8. Budi S (otodidak. natural)

9. Darsono (realis. Otodidak)

10. Dukan Wahyudi (lulusan SMSR. realis dekoratif, dengan mengusung banyak tema kritik sosial)

11. E.Y Fibri Andrianto (abstrak, STKW Surabaya)

12. Hari Subagio (realis ekspresionis, IKIP Semarang)

13. Indra Harianti (istri Supar Pakis. Realis.otodidak)

14. Joko Pramono (Jopram) (lulusan SMSR. pop art)

15. Jumartono (ekspresionis, lulusan SMSR)

16. Mas Rachmad (realis dan kemudian berkembang ke dekoratif. otodidak)

17. Mirza Said (dekoratif, Univ Trisakti)

18. Mukiban (otodidak.realis, impresif)

19. Nono Karyono (realis, otodidak)

20. Nono W.S (realis, banyak belajar di Perancis)

21. Novita Sechan (realis, lulusan Unesa)

22. Supar Pakis (lulusan Unipa=Universitas PGRI Adibuana. Gayanya realis-surealis)

23. Taufiq Hidayat

24. Yunus Jubair (surealis)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post your coment!